Kamis, 26 Februari 2026
Terbit : Sab, 31 Januari 2026

Masjid Besar, Jamaah Kecil: Catatan tentang Rasa Memiliki

Masjid Besar, Jamaah Kecil: Catatan tentang Rasa Memiliki

Perkembangan masjid di berbagai lingkungan hari ini menunjukkan dinamika keberagamaan yang menarik untuk dicermati. Munculnya masjid-masjid baru dengan bangunan megah, tata kelola modern, serta dukungan finansial yang kuat merupakan indikator positif meningkatnya kesadaran beragama di tengah masyarakat. Namun, pada saat yang sama, masjid-masjid kampung yang lebih dahulu berdiri dan historis dalam membentuk kehidupan sosial kampung mulai mengalami penurunan partisipasi jamaah.

Fenomena ini tidak dapat dipahami secara simplistik sebagai persaingan antar masjid. Dalam perspektif sosiologi agama, yang terjadi lebih tepat dibaca sebagai pergeseran fungsi dan makna ruang ibadah. Masjid tidak lagi semata dipilih karena kedekatan sosial dan emosional, melainkan juga karena efisiensi layanan, kelengkapan fasilitas, dan profesionalisme pengelolaan.

Masjid kampung secara historis tumbuh dari proses sosial yang partisipatif mulai dari gotong royong, musyawarah warga, dan keterlibatan jamaah dalam pengambilan keputusan. Ia berfungsi tidak hanya sebagai ruang ritual, tetapi juga sebagai ruang publik keagamaan, dengan kata lain tempat berlangsungnya interaksi sosial, pendidikan informal, dan penyelesaian persoalan komunitas. Dalam istilah Jürgen Habermas, masjid jenis ini berperan sebagai ruang diskursif yang memperkuat kohesi sosial umat.

Sebaliknya, masjid yang dikelola secara terpusat oleh yayasan atau keluarga besar sering kali mengadopsi model manajemen yang lebih efisien dan modern. Pendekatan ini membawa banyak manfaat, terutama dalam pelayanan jamaah skala besar. Namun, jika tidak diimbangi dengan mekanisme partisipasi yang inklusif, model tersebut berpotensi mereduksi posisi jamaah menjadi sekadar pengguna fasilitas/layanan, bukan bagian dari komunitas yang memiliki masjid secara kolektif.

Di sinilah tantangan kelembagaan masjid muncul. Ketika pengelolaan terlalu eksklusif dan partisipasi jamaah terbatas, ikatan emosional antara umat dan masjid dapat melemah. Masjid mungkin tetap ramai secara kuantitatif, tetapi kehilangan fungsi sosialnya secara kualitatif. Sementara itu, masjid-masjid lingkungan yang minim sumber daya berisiko semakin terpinggirkan, bukan karena kehilangan relevansi spiritual, melainkan karena perubahan preferensi dan struktur sosial umat.

Sebagai Sekretaris Badan Ta’mir Masjid (BTM) Al Hijrah yang notabene masjid kampung, saya berpandangan bahwa keberlanjutan kehidupan beragama di tingkat lokal menuntut keseimbangan ekosistem masjid, bukan dominasi satu model atas yang lain. Masjid besar idealnya mengambil peran pelayanan umat berskala luas, mencakup pendidikan, dakwah tematik, dan layanan sosial. Sementara masjid kampung tetap dijaga sebagai basis pembinaan jamaah, penguatan relasi sosial, dan pendidikan keagamaan yang lebih personal dan kontekstual.

Masjid kampung yang tampak sepi tidak serta-merta dapat disebut gagal. Ia mungkin hanya belum menemukan kembali perannya dalam konfigurasi sosial yang berubah. Justru tanpa masjid-masjid kecil yang hidup dan berfungsi, masjid besar berisiko kehilangan akar sosialnya. Keberagamaan yang sehat tidak dibangun oleh satu simbol kemegahan, melainkan oleh banyak simpul ibadah yang aktif dan saling menopang.

Oleh karena itu, tanggung jawab kolektif pengurus masjid, jamaah, dan para dermawan bukan hanya membangun dan mengembangkan institusi yang besar dan terlihat, tetapi juga merawat masjid-masjid kampung sebagai fondasi kehidupan umat. Upaya ini dapat dilakukan melalui pembagian peran yang adil, kolaborasi program, serta pembukaan ruang musyawarah yang memungkinkan jamaah kembali merasa memiliki.

Masjid pada hakikatnya bukan diukur dari skala bangunan atau kekuatan finansial semata, melainkan dari kemampuannya memelihara ukhuwah dan menghadirkan kebermanfaatan sosial. Sebagai masjid kampung, selama Masjid Al Hijrah tetap menjadi tempat umat merasa dilibatkan dan dipulangkan, maka ia tidak pernah benar-benar kehilangan maknanya.

Penulis adalah Sekretaris BTM salah satu masjid kampung di Tahuna.

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masjid Al-Hijrah
Akembuala Kelurahan Santiago, Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara
Luas Area300 m2
Luas Bangunan130 m2
Status LokasiWakaf
Tahun Berdiri1960
  • Selamat Datang di Masjid Al Hijrah Kelurahan Santiago, Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara