
Puasa sering dimaknai sebagai ibadah menahan lapar dan dahaga. Namun di balik itu, ada proses luar biasa yang berlangsung di dalam tubuh, yaitu sebuah mekanisme alami yang baru belakangan ini banyak menarik perhatian dunia medis modern.
Menariknya, apa yang kini dijelaskan oleh sains ternyata selaras dengan praktik yang telah lama diajarkan dalam Islam. Salah satu proses penting tersebut dikenal dengan istilah autofagi.
Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, auto (diri) dan phagy (memakan), yang secara sederhana berarti “proses tubuh kita memakan sel-sel tubuh yang rusak”.
Singkatnya, autofagi adalah cara tubuh kita membersihkan dan memperbaiki diri
Meski terdengar ilmiah, konsep autofagi sebenarnya sangat mudah dipahami.
Sebagai seorang tenaga medis, saya sering menjelaskan bahwa tubuh manusia bukanlah sistem pasif. Ia cerdas, adaptif, dan memiliki mekanisme pemeliharaan diri yang menakjubkan. Ketika seseorang berpuasa, tubuh tidak sekadar “kehabisan bahan bakar”, melainkan beralih ke mode perbaikan dan efisiensi.
Autofagi adalah mekanisme alami tubuh untuk melakukan pembersihan dan daur ulang di tingkat sel. Ibarat sebuah rumah, tubuh kita juga menghasilkan “barang-barang lama,” dalam hal ini komponen sel yang rusak, menua, atau tidak lagi bekerja optimal.
Jika dibiarkan, bagian-bagian ini dapat mengganggu keseimbangan tubuh.
Melalui autofagi, tubuh akan mengidentifikasi bagian sel yang tidak lagi efisien, kemudian menguraikannya dan mendaur ulangnya menjadi komponen yang masih berguna
Dengan cara ini, tubuh menjaga dirinya tetap sehat, efisien, dan seimbang.
Puasa: Momen Tubuh Masuk Mode ‘Perawatan Internal’
Tubuh manusia memiliki sistem adaptasi yang sangat cerdas. Saat kita terus makan tanpa jeda, tubuh sibuk mencerna, menyerap, dan mengolah asupan energi dari luar.
Namun ketika kita berpuasa, situasinya berubah.
Karena tidak ada asupan baru, tubuh beralih ke mode efisiensi dan pemeliharaan. Salah satu yang meningkat adalah aktivitas autofagi. Tubuh seolah memanfaatkan jeda makan untuk melakukan “bersih-bersih dan perbaikan internal”.
Puasa bukan sekadar kondisi menahan makan, tetapi juga memberi kesempatan bagi tubuh untuk melakukan servis alami dari dalam.
Ironi yang Sering Terjadi: Berbuka Seperti Ajang Balas Dendam
Di sinilah refleksi penting bagi kita. Setelah seharian tubuh bekerja dalam ritme puasa yang teratur, waktu berbuka justru kadang berubah menjadi ajang konsumsi berlebihan. Aneka makanan berat, minuman sangat manis, porsi tak terkendali, seolah-olah rasa lapar harus dilampiaskan sepenuhnya.
Padahal, sistem pencernaan baru saja beristirahat. Secara kesehatan, pola berbuka yang berlebihan dapat memmbebani lambung dan sistem metabolisme, memicu lonjakan gula darah, menyebabkan rasa begah dan kantuk berlebihan dan mengurangi manfaat fisiologis puasa
Padahal saat buka puasa, tubuh membutuhkan transisi yang lembut, bukan kejutan. Dan pesannya ibadah puasa mengajarkan pengendalian diri. Berbuka seharusnya juga mencerminkan nilai yang sama.
Pesan Al-Qur’an Agar Tak Berlebihan
Islam telah memberikan tuntunan yang sangat jelas dan relevan sepanjang zaman.
Allah SWT berfirman:
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31)
Ayat ini bukan sekadar adab makan, tetapi prinsip keseimbangan hidup. Tubuh manusia dirancang untuk bekerja optimal dalam moderasi, bukan dalam sikap berlebihan.
Berbuka bukanlah ajang “balas dendam”, melainkan momen syukur dan pemulihan yang bijak.
Berbuka dengan Bijak: Menjaga Ibadah dan Kesehatan
Berbuka idealnya dilakukan dengan kesadaran, bukan dorongan sesaat.
Beberapa prinsip sederhana namun penting:
Menjaga Harmoni Ibadah, Disiplin dan Kesehatan
Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi latihan menyeluruh bagi jiwa dan raga. Saat kita menahan diri, tubuh pun menjalankan mekanisme pemeliharaan alami seperti autofagi.
Namun manfaat itu akan terasa optimal bila kita menjaga keseimbangan, termasuk saat berbuka. Karena sejatinya, puasa tidak hanya mengajarkan menahan diri di siang hari, tetapi juga mengajarkan kebijaksanaan di waktu berbuka.
Penulis adalah dr. Hj. Nur Islamiah, CH Kepala Puskesmas Kendahe sekaligus Ketua Tim Pemeriksa Kesehatan Calon Jamaah Haji Kabupaten Kepulauan Sangihe 2026.
| Luas Area | 300 m2 |
| Luas Bangunan | 130 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 1960 |