
Konflik dalam keluarga adalah hal yang hampir tak terhindarkan. Perbedaan pendapat, emosi, tekanan ekonomi, hingga kesalahpahaman sering menjadi pemicunya. Islam memandang konflik bukan sebagai akhir dari keharmonisan, melainkan sebagai ujian yang harus disikapi dengan ilmu, kesabaran, dan kebijaksanaan.
Langkah pertama dalam menyelesaikan konflik keluarga adalah meluruskan niat. Tujuan utama bukan untuk menang atau membuktikan diri paling benar, melainkan mencari ridha Allah dan menjaga keutuhan keluarga.
Allah berfirman:
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi.”
(QS. An-Nisa: 1)
Ketika takwa menjadi landasan, emosi akan lebih mudah dikendalikan dan ego dapat diredam.
Banyak konflik keluarga membesar bukan karena masalahnya besar, tetapi karena lisan yang tidak terjaga. Kata-kata kasar, sindiran, dan teriakan hanya akan memperdalam luka.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan amarahnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Diam sejenak saat emosi memuncak adalah bagian dari hikmah, bukan tanda kalah.
Islam sangat menekankan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan, termasuk konflik keluarga. Sampaikan pendapat dengan tenang, dengarkan dengan empati, dan hindari saling menyela.
Allah berfirman:
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”
(QS. Ali ‘Imran: 159)
Komunikasi yang baik membuka ruang saling memahami, bukan saling menyalahkan.
Memaafkan memang tidak mudah, tetapi Islam menjadikannya sebagai akhlak mulia. Dalam keluarga, memaafkan adalah kunci utama agar konflik tidak berlarut-larut.
Allah berfirman:
“Maka maafkanlah dan berlapang dadalah. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?”
(QS. An-Nur: 22)
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan, tetapi memilih ketenangan hati.
Dalam konflik keluarga, sikap memihak sering memperkeruh suasana. Islam mengajarkan keadilan, bahkan terhadap orang terdekat.
Allah berfirman:
“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)
Sikap adil membuat semua pihak merasa dihargai dan didengar.
Jika konflik sudah sulit diselesaikan secara internal, Islam membolehkan menghadirkan pihak ketiga yang bijak dan terpercaya sebagai penengah.
Allah berfirman:
“Jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang penengah dari keluarga laki-laki dan seorang penengah dari keluarga perempuan.”
(QS. An-Nisa: 35)
Penengah bertugas meluruskan, bukan memperbesar masalah.
Solusi terbaik dalam konflik keluarga adalah melibatkan Allah dalam setiap ikhtiar. Doa melembutkan hati dan menenangkan jiwa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Doa adalah senjata orang beriman.”
(HR. Al-Hakim)
Ketika hati dekat dengan Allah, masalah terasa lebih ringan untuk dihadapi.
Mengatasi konflik keluarga dalam Islam bukan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah, melainkan tentang bagaimana menjaga amanah Allah berupa keluarga. Dengan takwa, kesabaran, komunikasi yang baik, serta sikap saling memaafkan, konflik dapat menjadi jalan menuju kedewasaan dan keharmonisan.
Keluarga yang dibangun di atas nilai Islam bukanlah keluarga tanpa masalah, tetapi keluarga yang tahu cara menyelesaikan masalah dengan bijak dan penuh rahmat.
| Luas Area | 300 m2 |
| Luas Bangunan | 130 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 1960 |