
Banyak dari kita mengenal Rukun Iman dan Rukun Islam sejak kecil. Kita menghafalnya di bangku sekolah, mengulanginya dalam pengajian, bahkan mengajarkannya kepada anak-anak. Namun, tidak sedikit yang berhenti pada hafalan, tanpa benar-benar menjadikannya fondasi dalam menjalani hidup. Padahal, jika dipahami dan diamalkan dengan benar, Rukun Iman dan Rukun Islam mampu mengubah cara berpikir, bersikap, dan memaknai kehidupan.
Rukun Iman bukan sekadar enam poin kepercayaan, tetapi kompas batin yang menuntun setiap keputusan hidup.
Beriman kepada Allah menanamkan kesadaran bahwa hidup tidak berjalan tanpa tujuan. Segala usaha, kegagalan, dan keberhasilan berada dalam pengawasan-Nya. Allah berfirman:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Keyakinan ini melahirkan ketenangan dan optimisme, bukan keputusasaan.
Beriman kepada malaikat mengajarkan kehati-hatian dalam bersikap, karena setiap amal dicatat.
“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada malaikat-malaikat yang mengawasi.”
(QS. Al-Infithar: 10)
Kesadaran ini mendorong kejujuran, bahkan saat tidak ada manusia yang melihat.
Beriman kepada kitab-kitab Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bukan sekadar bacaan.
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.”
(QS. Al-Isra: 9)
Beriman kepada para rasul mengajarkan bahwa akhlak mulia bisa diwujudkan dalam kehidupan nyata. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Beriman kepada hari akhir menumbuhkan tanggung jawab moral. Setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban, sehingga hidup dijalani dengan lebih berhati-hati dan bermakna.
Beriman kepada takdir mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Usaha tetap maksimal, namun hati tetap lapang menerima hasil.
Jika Rukun Iman menata hati, maka Rukun Islam menggerakkan perbuatan.
Syahadat adalah komitmen hidup, bukan hanya ucapan. Ia menegaskan bahwa tidak ada yang lebih berhak ditaati selain Allah dan Rasul-Nya.
Shalat melatih disiplin, ketenangan, dan koneksi spiritual yang kuat. Allah berfirman:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)
Zakat membersihkan harta dan menumbuhkan empati sosial.
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.”
(QS. At-Taubah: 103)
Puasa membentuk kejujuran dan pengendalian diri, bahkan saat tidak ada yang mengawasi.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Haji mengajarkan kesetaraan, kesabaran, dan ketundukan total kepada Allah, tanpa memandang status sosial.
Banyak persoalan hidup—kegelisahan, konflik, keserakahan, hingga kehilangan arah—berakar dari iman yang tidak dihidupkan. Ketika Rukun Iman dan Rukun Islam benar-benar diamalkan, seseorang akan lebih jujur, sabar, peduli, dan bertanggung jawab.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Iman itu bukan sekadar angan-angan, tetapi apa yang menetap di hati dan dibuktikan dengan amal.”
(HR. Al-Baihaqi)
Rukun Iman dan Rukun Islam bukan sekadar materi dasar dalam agama, melainkan fondasi yang membentuk karakter dan cara hidup seorang Muslim. Ketika keduanya dihayati, iman tidak hanya terasa di masjid atau pengajian, tetapi hadir dalam setiap keputusan, sikap, dan interaksi sehari-hari. Inilah keimanan yang hidup—iman yang benar-benar mengubah cara kita menjalani kehidupan.
| Luas Area | 300 m2 |
| Luas Bangunan | 130 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 1960 |