
Membedah Makna Isra’ Mi‘raj dari Perspektif Buku Terpesona di Sidratul Muntaha karya Agus Mustofa
Peristiwa Isra’ Mi‘raj selalu menghadirkan kekaguman sekaligus pertanyaan. Bagaimana mungkin Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan agung dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu menembus langit hingga Sidratul Muntaha hanya dalam satu malam? Dalam bukunya Terpesona di Sidratul Muntaha, Agus Mustofa mengajak pembaca tidak berhenti pada keajaiban peristiwa, tetapi menyelami makna terdalam dan hikmah rasional-spiritual di balik Isra’ Mi‘raj.
Artikel ini mencoba membedah Isra’ Mi‘raj dengan merujuk gagasan utama buku tersebut, sebagai bahan tadabbur jamaah, bukan sebagai tafsir pengganti ulama.
Isra’ Mi‘raj: Kekaguman yang Mengantar pada Kesadaran
Agus Mustofa memulai dengan satu sikap kunci: terpesona. Rasa takjub adalah pintu awal untuk memahami kebesaran Allah. Isra’ Mi‘raj bukan peristiwa biasa yang bisa didekati dengan logika kasar, tetapi peristiwa luar biasa yang menuntut kerendahan hati akal.
Al-Qur’an menegaskan:
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam…” (QS. Al-Isra’: 1)
Kata Mahasuci (Subhanalladzi) seakan menjadi peringatan bahwa sejak awal, peristiwa ini melampaui hukum kebiasaan manusia.
Sidratul Muntaha: Batas Tertinggi Makhluk
Dalam buku Terpesona di Sidratul Muntaha, Sidratul Muntaha digambarkan sebagai titik puncak perjalanan makhluk, batas terakhir yang dapat dicapai ciptaan Allah. Di sinilah manusia—melalui Rasulullah SAW—diajak menyadari bahwa:
Sidratul Muntaha bukan sekadar lokasi, melainkan simbol keterbatasan makhluk dan kemahaluasan Sang Pencipta.
Langit Berlapis dan Tingkatan Realitas
Agus Mustofa menafsirkan langit yang berlapis-lapis bukan semata struktur fisik, melainkan tingkatan realitas dan eksistensi. Setiap langit memiliki hukum dan kesadarannya sendiri.
Pendekatan ini membantu pembaca memahami bahwa Isra’ Mi‘raj terjadi karena Rasulullah SAW berada dalam realitas khusus yang Allah bukakan, di mana:
Semua itu tetap terjadi atas kehendak Allah, bukan karena teknologi atau kemampuan makhluk.
Pertemuan Para Nabi: Jejak Kesadaran Tauhid
Pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan para nabi di setiap lapisan langit dipahami sebagai perjumpaan eksistensi dan misi tauhid. Setiap nabi mewakili fase perjuangan manusia dalam mengenal Allah.
Agus Mustofa melihat peristiwa ini sebagai penegasan bahwa risalah Islam adalah penyempurna, bukan pemutus, dari risalah sebelumnya.
Shalat: Oleh-Oleh dari Sidratul Muntaha
Puncak keterpesonaan di Sidratul Muntaha bukanlah pemandangan kosmik, tetapi perintah shalat. Inilah inti Isra’ Mi‘raj.
Shalat adalah:
Agus Mustofa menekankan bahwa nilai Isra’ Mi‘raj akan hilang maknanya jika tidak bermuara pada perbaikan kualitas shalat.
Sains, Iman, dan Sikap Rendah Hati
Melalui buku ini, Agus Mustofa tidak sedang “mensainskan” Isra’ Mi‘raj secara berlebihan, tetapi mengajak pembaca berpikir luas tanpa melampaui wahyu. Sains hanyalah alat bantu untuk memahami kemungkinan, bukan penentu kebenaran mutlak.
Sikap terbaik seorang mukmin adalah:
Terpesona di Sidratul Muntaha mengajak kita melihat Isra’ Mi‘raj bukan sekadar cerita tahunan, tetapi pengalaman spiritual agung yang seharusnya mengubah cara pandang hidup. Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa setinggi apa pun ilmu manusia, selalu ada titik untuk berhenti dan bersujud.
Semoga peringatan Isra’ Mi‘raj menumbuhkan kembali rasa takjub kepada Allah, memperbaiki shalat, dan menguatkan tauhid dalam kehidupan sehari-hari.
Redaksi Website Masjid Al Hijrah
| Luas Area | 300 m2 |
| Luas Bangunan | 130 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 1960 |