
Takbir, Darah dan Manusia yang Kehilangan Makna
Takbir menggema dari pengeras suara masjid tua.
Langit kampung penuh gema nama Tuhan.
Anak-anak berlari mengejar sapi yang diikat di halaman.
Orang-orang sibuk memotret pengorbanan.
Tetapi entah kenapa… Di tengah semua itu,
Aku justru melihat begitu banyak manusia
yang belum selesai menyembelih dirinya sendiri.
Ada yang datang membawa sapi terbesar,
tetapi pulang masih memelihara kesombongan.
Ada yang tangannya membagi kantong daging,
tetapi lisannya tetap melukai tetangga.
Ada yang berdiri paling depan saat dokumentasi.
Namanya besar di spanduk kurban.
Tetapi wajah fakir miskin bahkan tak pernah benar-benar ia kenal.
Di halaman masjid darah mengalir ke tanah.
Tetapi rakus tetap hidup.
Iri tetap tumbuh.
Dan kebencian masih dipelihara diam-diam.
Seolah yang disembelih hanya hewan…. Bukan ego.
Tahun demi tahun jumlah sapi bertambah….
Tetapi rasa peduli justru berkurang.
Masjid makin ramai saat pembagian daging…
Tetapi sepi saat adzan berkumandang.
Orang rela antre demi kantong kurban…
Tetapi malas antre menuju saf pertama.
Di zaman ini kurban kadang berubah menjadi panggung.
Kamera lebih tajam daripada keikhlasan.
Caption lebih panjang daripada doa.
Dan manusia…
Lebih sibuk terlihat dermawan daripada benar-benar belajar memberi.
Aku takut….
Suatu hari nanti, yang tersisa dari Idul Adha hanya asap sate dan unggahan media sosial.
Sementara,,,
Makna pengorbanan pelan-pelan mati di dalam dada manusia.
Padahal Ibrahim tidak sedang mengajarkan pertunjukan.
Ia mengajarkan kepasrahan.
Ia tidak mencari tepuk tangan manusia.
Ia hanya ingin taat kepada Tuhan.
Mungkin hari ini….
Yang perlu kita sembelih bukan cuma kambing dan sapi.
Tetapi juga keserakahan, kemunafikan, haus pujian dan hati yang terlalu cinta dunia.
Karena kurban terbesar bukan pada pisau yang mengiris leher hewan…
Tetapi saat manusia berhasil mengiris kesombongan di dalam dirinya sendiri.
| Luas Area | 300 m2 |
| Luas Bangunan | 130 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 1960 |