Kamis, 26 Februari 2026
Terbit : Jum, 06 Februari 2026

Jumat Berkah atau Jumat Berjarak?

Jumat Berkah atau Jumat Berjarak?

Berkah Itu Datang dari Adzan, Bukan dari Hidangan

 

Di kampung kita, Jumat biasanya berjalan apa adanya. Adzan berkumandang, jamaah berdatangan, saf dirapatkan.
Kalau pulang kenyang hati, itu bonus. Kalau sandal tertukar, itu risiko.

Belakangan, istilah Jumat Berkah makin sering terdengar. Istilahnya indah, niatnya mulia. Berbagi makan, berbagi senyum, berbagi rezeki. Tidak ada yang salah dengan itu. Bahkan, Islam sangat menganjurkannya.

Namun, di sela-sela niat baik itu, muncul pertanyaan kecil yang patut kita pikirkan bersama. Apakah Jumat Berkah ini membuat kita makin dekat, atau tanpa sadar justru saling menjauh?

Ketika Jamaah Datang karena Lapar

Masjid itu memanggil dengan adzan, bukan dengan hidangan. Kalau jamaah datang karena iman, lalu pulang dengan perut kenyang, itu berkah. Tapi kalau datang karena makan, lalu pulang dengan hati saling curiga, itu perlu ditata ulang.

Sedekah makan adalah amalan mulia. Dari dulu, masyarakat kita terbiasa berbagi hidangan setelah pengajian, doa bersama, atau acara keagamaan. Semuanya hadir sebagai lanjutan ibadah, bukan sebagai umpan ibadah.

Jumat Bukan Ajang Promo

Di satu lingkungan, tiba-tiba Jumat jadi dua. Yang satu sederhana, yang satu lengkap. Yang satu mengandalkan khutbah, yang satu dibantu dengan iklan nasi kotak.

Pelan-pelan muncul obrolan. “Ke mana Jumat hari ini?” “Yang khutbahnya atau yang makannya?”

Kalau sudah begini, yang ramai bukan masjidnya, tapi perbandingannya. Karena, masjid bukan tempat adu strategi.Jumat bukan ajang promo. Karena yang dicari bukan siapa paling penuh, tapi siapa yang paling rukun.

Berkah Itu Menguatkan, Bukan Mengalihkan

Berkah sejati itu menambah kebaikan tanpa mengurangi yang lain. Kalau satu masjid bertambah ramai, tapi masjid lain jadi sepi, lalu jamaah terbelah, di situlah berkah perlu dievaluasi.

Kalau niatnya berbagi, jalan kebaikan terbuka lebar. Misalnya, dibagikan tanpa dikaitkan dengan Jumat, disalurkan ke yang membutuhkan, dikoordinasikan bersama antar pengurus masjid.Dengan begitu, sedekah tetap hidup, dan kerukunan tetap utuh.

Jumat yang Mendekatkan

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Ini hanya pengingat ringan bahwa masjid bukan sekadar bangunan baru, tapi rumah bersama yang sudah lama kita rawat.

Kalau Jumat membuat saf makin rapat, itulah berkah. Tapi kalau Jumat membuat pilihan makin ribet dan hati terasa berjarak, mungkin ada yang perlu ditata ulang.

Karena pada akhirnya, masjid dibangun untuk menyatukan sujud, bukan memisahkan jamaah. Apalagi dengan nasi kotak.

Penulis adalah Sekretaris BTM Al Hijrah yang sedang gelisah menyaksikan dinamika keumatan di Kelurahan Santiago.

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masjid Al-Hijrah
Akembuala Kelurahan Santiago, Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara
Luas Area300 m2
Luas Bangunan130 m2
Status LokasiWakaf
Tahun Berdiri1960
  • Selamat Datang di Masjid Al Hijrah Kelurahan Santiago, Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara