Kamis, 28 Mei 2026
Terbit : Sab, 23 Mei 2026

Ketika Kurban Bukan Sekadar Menyembelih, Tapi Menyembuhkan Jiwa

Ketika Kurban Bukan Sekadar Menyembelih, Tapi Menyembuhkan Jiwa

Setiap tahun umat Islam menyambut Idul Adha dengan gema takbir, aroma sate, dan hiruk-pikuk pembagian daging kurban. Namun ada pertanyaan yang jarang kita renungkan:

Mengapa Allah memerintahkan kurban? Apakah Allah membutuhkan darah dan daging hewan? Tidak. Bahkan Al-Qur’an menegaskan:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya…”
— QS. Al-Hajj: 37

Artinya, yang Allah lihat bukan ukuran sapi kita. Bukan seberapa besar kambing kita.
Bukan juga seberapa ramai dokumentasi kurban kita di media sosial.

Yang Allah lihat adalah seberapa ikhlas hati kita, seberapa rela kita melepaskan yang dicintai dan eberapa kuat kita menundukkan ego.

Idul Adha sejatinya adalah momentum “penyembelihan terbesar” adalah menyembelih sifat kebinatangan dalam diri manusia.


Nabi Ibrahim Mengajarkan Cinta Tertinggi Hanya Untuk Allah

Kisah Nabi Ibrahim AS bukan sekadar cerita pengorbanan ayah kepada anak. Itu adalah ujian tentang:

“Apa yang paling kamu cintai?”

Ketika Nabi Ibrahim terlalu mencintai Ismail, Allah menguji cintanya. Bukan karena Allah kejam. Tetapi karena Allah ingin memastikan tidak ada yang lebih tinggi dari cinta kepada-Nya. Dan menariknya… Allah tidak benar-benar mengambil Ismail.

Allah hanya ingin melihat: Apakah Ibrahim siap taat, meski harus kehilangan yang paling dicintai? Di situlah letak rahasia Idul Adha. Kadang yang harus dikurbankan bukan kambing. Tetapi gengsi, dendam, kesombongan, kerakusan, kemalasan ibadah bahkan rasa paling benar sendiri.

Hari Raya yang Mengajarkan Kepekaan Sosial

Idul Adha juga unik karena ibadahnya langsung menyentuh masyarakat.

Dalam salat kita bisa khusyuk sendiri. Dalam zikir kita bisa tenang sendiri.
Tetapi dalam kurban, kebahagiaan harus dibagi.

Ada tetangga yang setahun mungkin jarang makan daging. Ada anak kecil yang menunggu pembagian kurban dengan mata berbinar. Ada keluarga yang diam-diam menahan malu karena ekonomi sulit.

Maka kurban bukan sekadar ritual. Ia adalah pesan bahwa: Islam tidak membiarkan kebahagiaan hanya dinikmati orang mampu.

 

Amalan Sunnah Menjelang dan Saat Idul Adha

Berikut beberapa amalan yang dianjurkan menjelang Idul Adha:

  1. Memperbanyak Takbir

Sejak malam Idul Adha, umat Islam dianjurkan menghidupkan takbir

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallah…

Takbir bukan hanya lantunan suara. Ia adalah deklarasi bahwa Allah lebih besar dari rasa takut, masalah hidup, dan urusan dunia.

  1. Berpuasa Arafah

Bagi yang tidak berhaji, puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah memiliki keutamaan besar.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.

  1. Menjaga Lisan dan Hati

Percuma berkurban sapi jika mulut masih menyakiti, hati masih iri, tangan masih zalim dan media sosial masih dipakai menjatuhkan orang lain. Idul Adha mengajarkan bahwa ketakwaan tidak berhenti di tempat penyembelihan. Ia harus terlihat dalam akhlak.

  1. Mempererat Silaturahmi

Kadang yang paling mahal bukan sapi. Tetapi meminta maaf. Ada orang yang sanggup membeli hewan kurban puluhan juta, tetapi gengsi mengetuk pintu saudaranya sendiri.

Padahal bisa jadi: Allah lebih menyukai hati yang memaafkan daripada lisan yang hanya bertakbir.

 

Di Era Modern, Apa yang Harus Dikurbankan?

Hari ini manusia mungkin tidak menyembah berhala batu. Tetapi banyak yang diam-diam menyembah popularitas, jabatan, uang, validasi sosial, bahkan ego diri sendiri.

Kita hidup di zaman ketika: pencitraan lebih penting dari ketulusan, konten lebih penting dari ibadah dan pujian manusia lebih dicari daripada ridha Allah.

Karena itu Idul Adha datang sebagai alarm spiritual. Bahwa hidup bukan tentang siapa paling terlihat. Tetapi siapa paling ikhlas di hadapan Allah.

 

Jangan Sampai Hanya Hewannya yang Disembelih

Idul Adha akan berlalu. Takbir akan perlahan berhenti. Daging akan habis dibagikan. Foto-foto panitia akan tenggelam di timeline. Tetapi pertanyaannya: Apakah setelah Idul Adha, jiwa kita ikut berubah? Karena jangan sampai sapinya disembelih, kambingnya disembelih, tetapi kesombongan dalam diri tetap hidup.

Semoga Idul Adha tahun ini bukan hanya menghadirkan hidangan di meja makan, tetapi juga menghadirkan ketakwaan di dalam hati.

Selamat menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Semoga Allah menerima ibadah dan kurban kita semua. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masjid Al-Hijrah
Akembuala Kelurahan Santiago, Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara
Luas Area300 m2
Luas Bangunan130 m2
Status LokasiWakaf
Tahun Berdiri1960
  • Selamat Datang di Masjid Al Hijrah Kelurahan Santiago, Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara