
Menjelang Idul Adha, umat Islam memasuki salah satu musim ibadah paling agung dalam Islam: 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Banyak ulama menyebut hari-hari ini sebagai “Musim panen pahala umat Islam.”
Di antara amalan paling populer dan penuh keutamaan pada hari-hari tersebut adalah Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan Puasa Arafah (9 Dzulhijjah)
Namun sayangnya, sebagian orang hanya mengenalnya sebagai “puasa sebelum lebaran haji”, tanpa memahami sejarah, makna, dan kedahsyatan spiritual di baliknya.
Padahal ibadah ini bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia adalah latihan membersihkan hati sebelum menyambut Hari Raya Kurban.
Apa Itu Puasa Tarwiyah?
Kata Tarwiyah berasal dari bahasa Arab: “Rawa – yarwi” yang berarti: membawa bekal air, berpikir mendalam atau merenung.
Dalam sejarah ibadah haji, tanggal 8 Dzulhijjah disebut hari Tarwiyah karena para jamaah haji zaman dahulu mulai mempersiapkan bekal air menuju Mina dan Arafah.
Ada pula makna spiritual yang mendalam. Sebagian ulama menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim AS mulai merenungkan mimpi perintah menyembelih Nabi Ismail AS pada hari Tarwiyah.
Karena itu hari ini identik dengan perenungan, persiapan jiwa dan latihan ketaatan.
Hukum Puasa Tarwiyah
Puasa Tarwiyah hukumnya:
Sunnah
Artinya dianjurkan bagi umat Islam yang mampu menjalankannya.
Namun derajat hadis tentang puasa Tarwiyah memang diperdebatkan sebagian ulama. Karena itu, banyak ulama lebih menekankan keutamaan puasa pada 9 hari pertama Dzulhijjah secara umum.
Meski begitu, mayoritas ulama tetap membolehkan dan menganjurkan puasa Tarwiyah sebagai bagian dari amalan sunnah Dzulhijjah.
Apa Itu Puasa Arafah?
Tanggal 9 Dzulhijjah disebut Hari Arafah karena jutaan jamaah haji berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf sebagai puncak dari ibadah haji. Hari Arafah disebut sebagai salah satu hari terbaik dalam Islam.
Dalam banyak riwayat disebutkan: hari pengampunan dosa, hari pembebasan dari api neraka dan hari dikabulkannya doa-doa.
Bahkan Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim)
Keutamaan Puasa Arafah
Puasa Arafah memiliki keutamaan luar biasa:
Satu tahun yang lalu + 1 tahun yang akan datang = 2 tahun penghapusan dosa
Puasa ini menjadi salah satu ibadah sunnah dengan pahala sangat besar.
Namun para ulama menjelaskan yang dimaksud terutama dosa-dosa kecil sedangkan dosa besar tetap membutuhkan taubat sungguh-sungguh.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.”
Karena itu banyak umat Islam memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur’an, bershalawat dan berdoa sepanjang hari.
Saat kita berpuasa, jutaan jamaah haji sedang berdiri di Padang Arafah dengan pakaian ihram sederhana.
Puasa Arafah menghubungkan umat Islam di seluruh dunia dalam suasana penghambaan yang sama, sama-sama lapar, sama-sama berharap ampunan Allah.
Tata Cara Puasa Tarwiyah dan Arafah
Dilaksanakan pada:
8 Dzulhijjah
Niat:
Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillahi ta‘ala.
Artinya:
“Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta’ala.”
Dilaksanakan pada:
9 Dzulhijjah
Niat:
Nawaitu shauma ‘arafata sunnatan lillahi ta‘ala.
Artinya:
“Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala.”
Sama seperti puasa sunnah lainnya dimulai sejak terbit fajar hingga matahari terbenam.
Disunnahkan untuk sahur, menjaga lisan, memperbanyak doa dan menghindari perbuatan sia-sia.
Siapa yang Tidak Dianjurkan Puasa Arafah?
Bagi jamaah yang sedang melaksanakan haji di Arafah tidak dianjurkan berpuasa. Karena Rasulullah SAW saat wukuf di Arafah tidak berpuasa, agar tubuh tetap kuat menjalani puncak ibadah haji.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Puasa Dzulhijjah
Puasa bukan hanya urusan perut. Percuma lapar jika mulut masih menyakiti, hati masih dengki dan media sosial dipenuhi kebencian.
Padahal hari-hari Dzulhijjah adalah momentum besar untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, memperbanyak taubat dan membersihkan jiwa.
Puasa Tarwiyah dan Arafah sejatinya melatih manusia untuk mengendalikan hawa nafsu, belajar ikhlas dan mendekat kepada Allah.
Menjelang Idul Adha, Bersihkan Dulu Hati Kita
Idul Adha bukan hanya tentang hewan kurban. Sebelum menyembelih kambing atau sapi, Islam terlebih dahulu mengajarkan menyembelih ego dan hawa nafsu. Dan puasa Tarwiyah serta Arafah adalah latihan menuju itu. Mungkin kita belum mampu berhaji ke Tanah Suci. Namun Allah tetap membuka pintu pahala besar melalui: puasa, doa, dzikir dan taubat.
Semoga Allah menerima amal ibadah kita di bulan Dzulhijjah ini dan mempertemukan kita dengan keberkahan Idul Adha. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
| Luas Area | 300 m2 |
| Luas Bangunan | 130 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 1960 |